Langsung ke konten utama

Postingan

Suka Duka Belajar Bahasa Inggris

  Menjelang maghrib 25 November 2020 kereta dari arah Jember tiba di stasiun Kertosono Nganjuk. Saya menghubungi driver mobil kalau saya sudah berada di depan stasiun. Selang beberapa menit kemudian lelaki berusia 30 an itu melambaikan tangan, memastikan kalau orang yang saya pintai tolong untuk menjemput itu benar dia adanya. Setelah barang dan koper diangkut ke mobil saat itu juga mobil mendarat ke Pare, tempat di mana saya hendak belajar bahasa inggris. In the middle of the road saya iseng bertanya soal Pare pasca pandemic covid yang selama ini menghujami hampir seluruh dunia. Sebagai driver yang cukup lama menggantungkan hidupnya menjadi jasa pengemudi di Pare tentu merasakan betul bagaimana dampak negatif corona terhadap penghasilannya. Penghasilannya tentu saja berkurang, tidak sebagaimana sebelum kedatangan corona. Di pertengahan obrolan hangat itu ia menasehati saya soal niat belajar di tempat kursus itu. “Mas pokoknya sampean semangat, karena kalau belajar di sana ga...

2020 Tahun Perenungan Syukur dan Pengembaraan Hikmah ataukah ?

2020 adalah tahun mungkin terburuk yang dihadapi manusia seluruh dunia. Merebaknya covid 19 (Kata mereka) membuat orang gelagapan, kecewa, putus asa, bingung, cemas dan terancam, karena kita betul-betul menghadapi situasi yang tidak biasa dan mungkin berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Aktivitas tak berjalan normal, rencana menjadi tertunda, pendidikan kacau, ekonomi bangkrut dan saya fikir segala sektor menjadi tidak seimbang. Kemudian apa yang harus kita ambil hikmahnya pada situasi seperti ini? Saya sendiri belajar memaknai kalimat syukur dalam menghadapi hal ini, tapi perenungan syukur saya tidak lebih banyak daripada rasa sikap uring-uringan yang bergejolak dalam nurani saya. Tenggang waktu 9 bulan sejak covid 19 muncul di Indonesia sampai sekarang bukanlah waktu yang sebentar, tidak salah bila gejolak nurani saya berdetak begitu kencang untuk mempertanyakan validitas covid 19 itu yang sampai sekaran...

10 Hari di Semarang

Seminggu sebelum memastikan berangkat ke Semarang, saya komunikasi sama David soal waktu yang tepat. Mumpung Agustus kita sama-sama luang disepakatilah 10 Agustus 2020 kita meluncur. Inisiatif secepatnya berangkat soalnya kita tidak mengerti apa yang terjadi bulan-bulan berikutnya. Atas keyakinan inilah Agustus menjadi waktu pilihan mengungkap kangen ke tempat yang telah mengajari saya hidup, selebihnya mengurus kepentingan administratif yang begitu ribet bin ruwet. David meluncur dari Banyuwangi dengan kereta. Kurang lebih pukul 21.00 nan kereta bernama Purbowangi itu tiba di Stasiun Pasar Turi Surabaya. Sementara saya naik bus setelah maghrib dari Bondowoso, sesuai hitungan waktu pukul 23.45 bus patas tiba di Terminal Bungurasih. Malam hari bus kota sudah berhenti beroperasi, saya meminta kondektur menurunkanku di pintu masuk terminal.  Setelahnya terpaksa saya order ojek online. Turun dari bus saya melangkah gontai ke arah tempat yang biasa mengorder gojek online, karena tr...

Pulang Kampung dan Mitos Hari Selasa

Gara-gara Corona rencana kawin pulang kampung yang sebetulnya sudah saya handle jauh-jauh hari terpaksa harus dimajukan. Pemajuan kepulangan tersebut bersamaan dengan penundaan waktu wisuda, 22 April 2020. Awalnya saya tidak berniat balik rumah sebelum proses administratif dan seremonial studi selesai, tetapi wabah Corona yang kian hari menyerang banyak korban mendorong niat agar selekas mungkin balik ke tanah kelahiran. Apalagi Semarang, tempat tinggalku sementara adalah salah satu wilayah yang terstampel zona merah, tiap harinya ada korban dinyatakan positif terjangkit virus Covid 19. Semakin bertambahnya korban dinyatakan positif, keluarga di rumah pada khawatir, orang tua, saudara, kakak dan mbak semuanya mengingatkan agar jaga diri baik-baik di Semarang. Bahkan mereka meminta saya untuk segera meninggalkan kota yang telah membesarkanku kurang lebih 5 tahun lamanya itu. “Mending pulang kampung saja, kalau sudah reda baru balik lagi ke Semarang,” kata mereka.   ...

Geliat Cerita Sidang Munaqosah Online

Minggu, 22 Maret 2020 ba’da dzuhur saya menghubungi dosen penguji penelitian saya yang akan disidangkan keesokan harinya, Senin, 23 Maret 2020. Pak Eman Sulaeman SH, MH, Pak Moh Arifin M,Hum, Pak Dr Junaedi Abdillah M,Ag dan Pak Drs Sahidin M,Si sekaligus dosen pembimbing saya. Berhubung fakultas menginstruksikan ujian agar dilakukan secara online/daring sebab mewabahnya virus Corona, saya menanyakan sistem ujiannya ke dewan penguji. Pesan itu terbalas keesokan harinya setelah saya mengonfirmasi ulang penguji yang sehari sebelumnya menyatakan siap. Dalam pesan berbalas Whatsapp itu, dewan penguji pun memintanya online sebagaimana intruksi akademik. Selang pukul 07.30 sesuai jadwal ujian munaqosah dari kampus, Pak Sahidin selaku ketua Majlis menelphon saya via WA, dan beliau meminta agar ujian skripsi saya digelar secara majlis saja, majlis online. “Assalamu’alaikum Mas Hasan Ainul Yaqin, nanti ujiannya online lewat ...

Dipaksa Berpendapat

(Upah kesel spaneng dan bacot adalah makan gratis: Fotografer Fia) Tema global FGD yang digelar ELSAM (Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat Jakarta) sebenarnya soal “Pemetaan Isu HAM dalam Pembangunan Bali Baru: Menilik Politik Ekonomi Pembangunan Sektor Pariwisata Presiden Joko Widodo Dari Perspektif Bisnis dan Hak Asasi Manusia,” Kemudian tema besar ini difokuskan lagi dalam dua season. Season pertama tentang “Melihat Perspektif Pemangku Kepentingan atas Upaya Pengarusutamaan Hak Asasi Manusia Dalam Industri Pariwisata di Indonesia: Studi Kasus Kawasan Pariwisata Borobudur”. Season keduanya bertajuk “Memetakan Peluang Pengarusutamaan Hak Asasi Manusia Dalam Industri Pariwisata Khususnya Kawasan Pariwisata Borobudur”. Kebetulan FGD tersebut locusnya terfokus di Kawasan Borobudur. Pembicara season pertama disampaikan masing-masing sektor, sektor pemerintahan dijelaskan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Jawa Tengah, s...