Langsung ke konten utama

Hanya Bisa Mengantar Tapi Belum Bisa Memilih


sumber foto : Makassar.id

Sebagaimana tradisi di Jawa kata teman saya, orang bertamu apalagi sampai dipersilahkan bermalam sampai berhari-hari, rasanya kurang enak bila sebelum pulang tidak menyisihkan sesuatu untuk diberikan ke tuan rumah sebagai bentuk rasa terima kasih meskipun tuan rumah sendiri tidak berharap demikian. Tapi namanya tradisi yang berasaskan kepatutan hendaknya diberikan walaupun dalam bentuk apa barang itu.
Setelah berhasil disepakati, dipilihlah membeli buah untuk diberikan ke bu Tini dan Sembako buat Bu Tri. Mengapa tidak dipukul rata atau diperlakukan sama ? bukan tanpa pertimbangan kami mengambil sikap sedemikian. Berhubung bu Tini seorang pedagang, warungnya termasuk besar. Maka dimusyawarahkan untuk dibelikan buah-buahan. Sementara bu Tri dibelikan kebutuhan dapur atau Sembilan bahan pokok kalau orang menyebutnya alias sembako.
Malam harinya Fina dan Nia sudah merancang untuk membeli apa saja besok harinya di pasar, sebelum kita berpamitan pulang. Saya serahkan kepada mereka yang memang lebih tahu urusan sembako. Soalnya saya pribadi memang belum pernah mengurus hal-hal demikian. Meskipun di pondok pernah berurusan dengan urusan masak-masak atau mayoran kalau Bahasa santri. tapi untuk membeli kebutuhan pokok ada teman saya yang memang ditugasi untuk membeli, mereka cukup hafal warung dimana tempat jualan sembako.
Selama ada harga lebih murah, maka disana mereka membelinya. Masih teringat di benak saya, bila ingin masak bareng, saya di pondok bagian tugas bakar terong, ngupas bawang, memelintir cabe dan tomat. Setiap masak bersama, tugas ini tidak luput saya kerjakan. Tentu kerja sama dengan teman santri seperjuangan juga.
Di tengah malam sebelum tidur, kita sepakat untuk ke pasarnya jam 06 pagi. Waktu itu sangat pagi sekali. Mereka meragukan saya apakah bisa bagun atau tidak jam segitu. Saya mencoba meyaqinkan mereka kalau saya paling akhir bangun jam 06.00 tidak lebih. Mau tidur jam berapun itu, sebelum jam 06.00 insyaallah dipastikan bangun. Kecuali hari minggu seperti cerita sebelumnya.
Tepat jam 06.00 saya bermain ke tempat mereka tinggal yaitu di rumah Bu Tri untuk bersiap siap ke pasar di waktu yang telah disepakati. Sementara Arif sedang tidur di kamar, saya ajak bilangnya tidak ikut ke pasar. Jadinya bertiga kami kesana dengan Fina dan Nia. Fina mengasih tahu hasil rancanganya ke saya yang akan dibeli di pasar. Saya baca satu-satu rancanganya apa saja yang akan dibelnya dengan mimik wajah terlihat kesoktahuan, namun Tanpa basa-basi saya iyakan saja menyesuaikan dengan pendapat mereka. karena memang tidak mengerti.
Pagi hari pasar sudah mulai ramai dari tawar menawar antara penjual dan pembeli, persaingan antar penjual tidak sampai menaruh pandang elok dan menjatuhkan lawan saingnya. Mereka duduk sama rendah sambil menunggu pelanggan. Kalau ada pembeli mereka bersyukur kalau tidak, berarti bukan rizkinya. Kata mereka.
Si Fina dan Nia sibuk dengan barang yang dibelinya di pasar, mereka mulai memilih dan memilah barang sesuai rancanganya tadi malam. Saya hanya mengamati kesibukan mereka berdialog dengan penjualnya. Saya mencoba keluar sebentar dari toko itu, tolah-toleh ke kanan kiri, melihat orang berlalu lalang sambil memikul barang yang sudah dibelinya. Anak kecil sedang manja meminta dibelikan mainan pada orang tuanya, orang tua pun menuruti kemauan sang anak tersebut. Keramaian di pasar menyenangkan diamati.
Setelah semuanya beres terbeli, tanpa disuruh oleh Fina dan Nia, saya pikul barang hasil belianya itu. maklum saya bisanya mengantar dan membawanya tapi tidak bisa merancang dan menentukan pilihan dalam soal urusan dapur. (ink) 17/11/18

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jadi Pendukung Ataupun Anti Pemerintah Asal Mau Mencoba Kritis Menanggapi Persoalan

(sumber: tatkala.co) Setelah terlantiknya Presiden dan Wakil Presiden RI, Ir. Joko Widodo dan Prof. KH. Ma’ruf Amim Minggu kemarin 20 Oktober 2019, sontak ucapan selamat mengalir deras baik di dunia nyata maupun di jagat maya. Ucapan itu datang dari berbagai lapisan baik yang tergabung dalam organisasi, pejabat pemerintahan, masyarakat sipil maupun secara individu. Hari itu sayapun sebagai warga negara tidak ketinggalan memberikan salam hormat kepada beliau lewat pamflet yang saya buat sendiri. Setelah pamflet itu jadi kemudian saya menyebarnya di berbagai group WA ataupun story WA. Setelah pamflet terkirim di beberapa group yang saya tergabung di dalamnya maupun secara lewat story WA, selang beberapa detik kemudian komentar negatif, cibiran, dan hujatan (Meski sebenarnya semua itu adalah lelucon dan guyonan belaka sih) menggeranyangi ponselku entah bagi mereka yang mendaku dirinya anti pemerintah, kecewa pada pemerintah, tidak perca...

Merasakan Penderitaan Manusia Lewat Sastra

" Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai" Pramoedya AT. Hari kedua Workshop Justisia materi terakhir tentang Sastra. Mas Heri CS selaku pembicara dalam papernya yang berjudul “Meniti Jalan Sastra” menjelaskan bagaimana kekuatan sastra mampu menyihir pembaca untuk mengenal dirinya, orang lain dan lingkunganya. Tidak hanya itu, ia juga menjelaskan pentingnya karya sastra bagi pembaca agar menjadi lebih manusiawi. Metafor Bahasa dalam sastra memang kalau kita menyelami mampu menggapai makna tersirat yang diciptakan para sastrawan melalui bahasa dan imajinasi yang dilukiskan. Kekuatan imajinasi dalam karya itu kemudian membawa pembaca keliling menjelajahi dunia di dalam dunia dan seolah merasakan kehidupan nyata di dalamnya seperti dilukiskan oleh satrawan. Meski sastra adalah karya fiksi tapi ia tidak lepas dari ...

Islam Dan Kedaulatan Lingkungan

hujan yang hampir terus menerus mengguyur Indonesia semenjak tahun 2017 hingga saat ini memasuki babak awal 2018 masih belum beranjak pergi berganti musim, padahal bencana yang diakibatkan sudah banyak terjadi dipermukaan mulai dari rumah roboh karena tidak kuat menahan arus air yang begitu deras alirnya, ataupun rusak tertimbun tanah longsor merupakan salah satu sebabnya. Dari korban bencana yang bertubi – tubi itu, bukan hanya harta benda yang hilang, nyawapun ikut melayang. sebagai negara yang bangsanya mengakui keesaan tuhan sebagaimana dalam sila pertama   pancasila “ketuhanan yang maha esa” khususnya umat Islam, Tentu suatu bentuk protes terhadap tuhan   jika kita mengajukan pertanyaan mengapa hujan yang melanda Indonesia tidak kunjung reda sehingga mengakibatkan petaka bencana yang harus diterima bangsa ini. Seharusnya menurut penulis yang menjadi pokok persoalan yang harus kita nyatakan dan tanyakan adalah, mengapa banjir, tanah longsor dan bencana serupa lai...