Langsung ke konten utama

Postingan

PESANTREN GERBANG SANTRI BELAJAR MERAKYAT

  ‘’Disekolah jangan sampai memperkerjakan tukang sapu untuk menyapu sekitar halaman sekolah’’ pesan Tokoh revolusioner Tan Malaka pada lembaga pendidikan, larangan tersebut mengacu supaya siswa belajar bagaimana menjadi rakyat. Karena pendidikan ouputnya bukan sekedar mengahasilkan siswa yang prestasi dan pandai, melainkan juga   bagaimana peserta didiknya mempunyai karakter yang baik, mandiri, solidaritas yang tinggi, serta peduli kepada sesamanya. Penulis beranggapan pesantrenlah tempat yang baik untuk membentuk siswa yang mempunyai karakter sosial yang baik dan mempunyai sikap kerakyatan yang memang dikokohkan saat peserta didik mulia menginjak di pesantren tersebut, karena di tempat ini mereka bukan hanya belajar ilmu pengetahuan yang memang menjadi tujuan dari rumahnya.   melainkan mereka juga diasah dan diberi pemahaman bagaimana mereka menyelesaikan tugas kerakyatan baik didalam aktivitas keseharian yang berhubungan dengan diri masing - masing, kawan...

DOKTER SPESIALIS KORUPTOR INDONESIA, BUTUHKAH ?

Indonesia sebagai negara pluralisme penduduknya, yang terdiri dari bermacam suku, beraneka ragam agama, tiada habisnya menuai bermacam ancaman dari beberapa pihak, baik pihak luar ataupun pihak dalam itu sendiri, yang berusaha untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa dalam kehidupan bernegara. meskipun Indonesia notabenanya negara beragama, sesuai dengan pancasila butir pertama “ketuhanan yang maha esa”.   namun idiologi bangsa bukanlah dari agama tertentu yang dijadikan pedoman tertinggi dalam tatanan kenegaraan, melainkan ideologi pancasila yang menjadi jembatan untuk menggabungkan antar umat beragama hidup bersebelahan dengan ramah, damai dan tiada yang dirugikan di negeri ini, sehingga tidak ada yang di unggulkan dan dideskriminasikan satu diantara yang lain. yang patut dilakukan sebaiknya bagaimana semua bangsa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah, inilah yang di impikan oleh bangsa ini yang terdapat pada butir ke 5 pancasila “keadilan sosial bagi selu...

BERMAIN BERSAMA HUJAN

Kemarin siang (25/11) awan mulai mendung menyelimuti kawasan Ngaliyan – Kendal, anggota tubuh mulai terasa adem, karena matahari sudah perlahan – lahan kabur dibelum waktunya untuk meninggalkan lokasi yang dihuni masyarakat sekitar, bukan karena memberontak, bukan pula karena tak ikhlas dimintai perlindungan manusia untuk berteduh dibawah teriknya, hanya saja memberi kesempatan untuk berbagi dengan awan untuk menurunkan hujan, terlebih dibulan november yang memang didominasi oleh kekuasaan hujan dari pada panas. Perlahan – lahan, matahari sudah tenggelam ke permukaan, hanya awan dan langit yang sedikit demi sedikit meneteskan air   hingga hujan deras mengguyur jalan raya, pengendara roda dua, ada yang berteduh sambil menyeruput kopi hitam dan teh hangat diwarung kecil dipersimpangan jalan untuk menghangati tubuh dan menenangkan fikiran, sambil menunggu redanya hujan, kemudian melanjutkan perjalanan agar cepat pada tempat yang dituju, para pedagang pasar pun mengipas ngipas...