Langsung ke konten utama

Postingan

mengemis kepada yang lamis

BERJALAN DEMI MENGEMIS KEADILAN Pada tanggal 9 Desember kemarin 2016, depan gerbang Kantor Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di padati oleh kaum tani dan buruh masyarakat Kendeng Pati. dengan berjalan sejauh kurang lebih 150 KM. dari kampung halaman mereka, untuk mengawal putusan MA yang memutuskan untuk tidak jadi di dirikannya   pabrik semen. Tidak hanya mayarakat setempat yang berdemonstran di halaman kantor tersebut, melainkan masyarakat Surokonto   dari Kendal dan mahasiswa di setiap Perguruan Tinggi turut andil menyuarakan pendapatnya dengan asas kesolidaritasan dan kemanusiaan. Rencana mendidirikan pabrik semen yang dilakukan di Pati, membuat masyarakat kendeng untuk terus memperjuangkan haknya demi monolak pendirian Pabrik Semen. dikawasan tempat mereka meraih Rizqi dan sumber pencaharian hidup. Karena mayoritas penduduk setempat berprofesi sebagai petani, maka lahan dan ladang adalah segala - galanya yang perlu dijaga dan dirawatnya. Karena apabila itu tida...

tangisan buruh

RINTISAN TANGISAN BURUH Resensi Buku Di Bawah Lentera Merah{Soe Hok Gie} Soe hok Gie merupakan tokoh nasional muda Indonesia yang berjuang untuk melawan tokoh elite Belanda demi untuk kepentingan rakyat. Namun dengan usia masih muda, ia tewas di pegunungan Kediri. Salah satu karya tersisa dari ilmuan muda Soe Hok Gie yang berbentuk skripsi saat di bangku kuliah yang bertema Di bawah lentera merah yang tidak lain menceritakan pengalaman yang dialami penulis sendiri. Pada tahun 1926-1927 Kelompok Komunis melakukan pemberontakan terhadap Kolonial yang penyebabnya dipicu dengan kemiskinan. Di buku tersebut merupakan usaha kecil pergerakan rakyat Indonesia di abad ke 20. Salah satu bentuk pergerakannya yaitu gerkan SI Semarang pada tahun 1917-1920. Pada saat dipimpin sebelum Samaon Presiden SI yaitu Muhammad Yusuf, saat itu dibawahnya terdiri dari golongan menengah keatas. Namun saat pergantian Samaon(19), maka orientasi pergerakannya pun berbeda, yang notabenenya adalah kaum bur...

menghadiri Gus Dur dengan meneladaninya

MENGHADIRI GUS DUR DENGAN MENELADANINYA Islam datang bukan merubah budaya leluhur kita menjadi budaya arab, bukan aku jadi ana, sampean jadi antum, sedulur jadi akhi, kita pertahankan milik kita, kita filtrasi ajarannya bukan budayanya. (Abdurrahman Wahid) Tugu muda yang berdiri tegak di tengah bundaran   lapangan depan Museum Deponegoro, menjadi simbol dari pada sejarah kota Semarang. Tadi malam tempat ini dijejaki manusia mulai dari PELITA (persaudaraan lintas agama), pelajar diberbagai perguruan tinggi kota semarang, dan aktivis sosial. Tapi bukan aksi bela agama yang berjilid - jilid, melainkan untuk merefleksikan perdamaian sebagai kegiatan dalam rangka memperingati houl ke tujuh bapak bagsa Abdurrahman Wahid atau Gus dur. Dan tak lupa, turut hadir masyarakat kendeng yang sudah 12 hari berbaring menuntut mencabut ijin lingkungan didepan pintu gerbang Kantor Gubernur untuk menunggu sang penguasa keluar dari saran...